This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 25 Desember 2010

Kenapa Amalan di Terima ?

“Kalau bukan karena indahnya tutupnya Allah swt, maka tak satu pun amal diterima.”Kenapa demikian? Sebab nafsu manusia senantiasa kontra dengan kebajikan, oleh sebab itu jika mempekerjakan nafsu, haruslah dikekang dari sifat atau karakter aslinya.
Dalam firmanNya: “Siapa yang yang menjaga nafsunya, maka mereka itulah orang-orang yang menang dan bahagia.”(Al-Hasyr 9)

Nafsu, ketika masuk dalam kinerja amaliah, sedangkan nafsu itu dasarnya adalah cacat, maka yang terproduksi nafsu dalam beramal senantiasa cacat pula. Kalau toh dinilai sempurna, nafsu masih terus meminta imbal balik, dan menginginkan tujuan tertentu, sedangkan amal itu inginnya malah ikhlas. Jadi seandainya sebuah amal diterima semata-mata bukan karena amal ansikh, tetapi karena karunia Allah Ta’ala pada hambaNya, bukan karena amalnya.

Abu Abdullah al-Qurasyi ra mengatakan, “Seandainya Allah menuntu ikhlas, maka semua amal mereka sirna. Bila amal mereka sirna, rasa butuhnya kepada Allah Ta’ala semakin bertambah, lalu mereka pun melakukan pembebasan dari segala hal selain Allah swt, apakah berupa kepentingan mereka atau sesuatu yang diinginkan mereka.”

Oleh sebab itu Ibnu Athaillah melanjutkan:
“Anda lebih butuh belas kasihan Allah swt, ketika anda sedang melakukian taat, dibanding rasa butuh belas kasihNya ketika anda melakukan maksiat.” Kebanyakan manusia memohon belas kasihan kepada Allah Ta’ala justru ketika ia menghadapi maksiat, dan merasa aman ketika bisa melakukan taat ubudiyah. Padahal justru yang lebih dibutuhkan manusia adalah Belas Kasih Allah ketika sedang taat. Karena ketika sedang taat, para hamba sangat rawan “taat nafsu”, akhirnya seseorang terjebak dalam ghurur, atau tipudaya dibalik amaliyahnya sendiri.

Rasulullah saw, bersabda:
“Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada salah seorang Nabi dari para NabiNya: “Katakanlah kepada hamba-hambaKu yang tergolong shiddiqun, jangan sampai mereka tertimpa tipudaya. Sebab Aku, bila menegakkan keadilanKu dan kepastian hukumKu kepada mereka, Aku akan menyiksa mereka, tanpa sedikit pun aku menzalimi mereka. Dan katakanlah kepada hambaKu yang ahli dosa, janganlah mereka berputus asa, sebab tak ada dosa besar bagiKu manakala Aku mengampuninya.”

Bahkan Abu Yazid al-bisthami ra mengatakan: “Taubat dari maksiat bisa sekali selesai, tetapi taubat karena taat bisa seribu kali pertaubatan.”
Mengapa kita harus lebih waspada munculnya dosa dibalik taat? Karena nafsu dibalik maksiat itu jelas arahnya, namun nafsu dibalik taat sangat lembut dan tersembunyi.
Diantara nafsu dibalik taat yang menimbulkan dosa dan hijab antara lain:
1. Mengandalkan amal ibadahnya, lupa kepada Sang Pencipta amal.
2. Bangga atas prestasi amalnya, lupa bahwa yang menggerakkan amal itu bukan dirinya, tetapi Allah swt.
3. Selalu mengungkit ganti rugi, dan banyak tuntutan dibalik amalnya.
4. Mencari keistemewaan amal, hikmah dibalik amal, lupa pada tujuan amalnya.
5. Merasa lebih baik dan lebih hebat dibanding orang yang belum melakukan amaliyah seperti dirinya.
6. Seseorang akan kehilangan kehambaannya, karena merasa paling banyak amalnya.
7. Iblis La’natullah terjebak dalam tipudayanya sendiri, karena merasa paling hebat amal ibadahnya.
8. Menjadi sombong, karena ia berbeda dengan umunya orang.
9. Yang diinginkan adalah karomah-karomah amal.
10. Ketika amalnya diotolak ia merasa amalnya diterima.

Selasa, 21 Desember 2010

Rendah Hati

Kajian Kitab Al-Hikam (Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah)

Andaikata kita benar-benar bisa menempatkan diri secara tepat sekali dalam hidup ini, niscaya hidup akan lebih ringan, lebih indah, dan lebih barokah. Sayang kita kadang tidak cukup waktu untuk mengenal diri sehingga kita merasa lebih dari kenyataan atau merasa lebih rendah dari karunia yang Allah berikan. Setidaknya inilah hikmah yang akan kita simak dalam kajian kitab Hikam kali ini.

"Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan. Sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak di tanam, maka tidak sempurna hasil buahnya."

Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang merendah diri, maka Allah akan memuliakannya. Dan siapa yang sombong, besar diri, Allah akan menghinanya."

Saudaraku, akar yang menghujam ke dalam tanah membuat pohon kian kokoh. Tapi pohon yang akarnya jauh dari tanah, disiram air, pohon bisa rontok. Makin kokoh menghujam, dihempas badai, diterjang topan, ditiup angin, tidak goyah. Tampaknya, orang-orang yang benar-benar menikmati hidup buah dari amal adalah orang yang tawadhu; orang-orang yang rendah hati.

Saudara-saudaraku, banyak beramal tidak berarti langsung selamat. Sebelum amal terlaksana, tipu dayanya adalah enggan beramal dan niat yang salah yaitu ingin dipuji amal-amalnya sebagai kebaikan. Ketika sedang beramal, cobaannya adalah enggan menyempurnakan amal. Dan ketika selesai beramal, ada lagi cobaannya, yaitu menjadi ujub, merasa diri paling beramal dan merasa diri lebih dari orang lain. Semua ini benar-benar butuh perjuangan. Imam Ibnu Atailah menganjurkan agar kita tawadhu dengan menanam di bumi kerendahan hati agar sempurna amal-amal kita. Jika kita benar-benar ingin menikmati tawadhu, beberapa rahasianya adalah, pertama : kita harus selalu sadar bahwa yang membuat kita beramal bukan kita tapi taufik Allah. Kita bisa bersodaqoh, uangnya dari mana kalau tidak dititipi rejeki dari Allah. Andai kita punya uang, tapi Allah tidak memberikan jalan bagi kita karena orang-orang di sekitar kita tidak butuh, tidak akan keluar itu uang. Setelah ada rejeki, oleh Allah digerakkan untuk bertemu dengan orang yang perlu pembangunan masjid, ada yang perlu dilunasi hutang, itu Allah yang mengatur. Setelah kita bisa bersodaqoh, diringankan hati kita. Kan ada yang sodaqoh tapi hati jadi kesal. Oleh karena itu kita harus tahu rangkaian semua amal ini hanya Allah-lah yang berbuat. Tidak usah diingat-ingat, tidak usah di sebut-sebut amal kita karena Allah-lah sebetulnya yang membuat kita bisa beramal. Seperti mutiara hikmah dari Syekh Ibrahim bin Asyam, "Tidak benar-benar bertujuan kepada Allah siapa yang ingin masyhur atau terkenal." Bahkan Syekh Ayyub Asy Syahtiani berkata, "Demi Allah, tiada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas kepada Allah, melainkan ia merasa senang, gembira, jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya."

Ciri-ciri kita kurang ikhlas adalah, andaikata kita sudah merasa beramal. Apalagi kita merasa ikhlas. Orang yang merasa ikhlas, dia ingin diketahui oleh orang lain keikhlasannya, berarti belum ikhlas. Karena dia masih membutuhkan orang lain agar tahu bahwa dirinya ikhlas dan dia senang ketika dia diketahui ikhlas. Berarti dia belum ikhlas. Oleh karena itu orang-orang yang ingin menikmati ketawadhuan, lupakan siapa diri kita. Kalau kita seorang sarjana, jangan diingat-ingat kesarjanaan kita. Disisi Allah bukan kesarjanaan yang penting, tapi amal yang ikhlas. Kalau kita seorang yang sudah pernah bersodaqoh sebanyak apapun, lupakan! Kalau kita ingat-ingat, kita menjadi butuh diakui, butuh ditulis, butuh disebut-sebut, itu bisa merusak. Inilah cara yang kedua, yakni dengan melupakan jasa diri sendiri. Makin kita mengingat-ingat otoritas kita, kedudukan kita, amal kita, makin kita ingat makin kita butuh diakui oleh makhluk, makin tidak ikhlas. Sesuatu yang layak kita ingat agar kita tawadhu, adalah ingat akan dosa-dosa kita. Berlatihlah untuk tawadhu dengan mengingat kekurangan kita. Cara lainnya supaya kita tawadhu, sesudah yakin semua milik Allah dan tidak mengingat kebaikan jasa diri sendiri, maka cara yang ketiga adalah tidak melihat orang lain lebih rendah dari diri kita. Setiap melihat orang, cari titik kelebihannya.

Ketika melihat anak-anak, subhanallah mereka dosanya masih sedikit. Melihat ibunya, ingatlah tetesan darah, keringat, pengorbanan dan air mata, mungkin inilah yang akan mengangkat derajat seorang ibu walaupun amalnya masih terbatas. Melihat orang yang lebih tua, subhanallah, bapak-bapak ini tentu amalnya lebih banyak dari kita. Melihat orang yang baru belajar baca Quran, siapa tahu baru belajar tapi lebih takut kepada Allah daripada perasaan takut kita kepada Allah. Melihat pedagang kecil, siapa tahu dalam pandangan Allah dia mulia karena kejujurannya walaupun dagangannya sederhana. Melihat seorang guru, mungkin dia mengajar dengan ikhlas, sehingga boleh jadi muridnyalah yang kelak akan menjadi benteng bagi agama dan bangsa ini. Pendek kata, ketika melihat orang lain, lihatlah kelebihan dan kebaikannya. Makin senang melihat kelebihan dan jasa orang lain, kita akan makin senang menghormat orang dan jauh dari kesombongan. InsyaAllah makin tawadhu. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang memiliki puncak kemuliaan, puncak kedudukan. Beliau adalah seorang nabi dan rasul terakhir. Beliau adalah seorang pemimpin yang tangguh, tapi beliau adalah seorang yang sangat rendah hati. Beliau menyapa dengan ramah dan lembut kepada siapa pun penuh dengan rasa hormat. Tiada seorang pun yang berjumpa kepada beliau kecuali beliau menatap dengan wajah penuh senyuman dan cerah bagai purnama. Subhanallah! Beliau tidak membeda-bedakan tamu kaya dan miskin. Beliau menerima undangan walau hanya makanan yang amat sederhana. Beliau berjalan dengan suka cita walaupun diundang oleh sekedar hamba sahaya. Beliau tidak menjadi bangga dengan naik unta yang bagus dan tidak pernah malu dan minder dengan menunggang keledai walaupun hanya dibonceng. Di rumah nabi Muhammad yang amat sederhana, beliau menjahit sendiri terompahnya, merapikan kamarnya, memeras susu tanpa ingin menjadi beban. Jikalau beliau ke pasar, beliau lebih menyukai jika beliau membawa sendiri belanjaannya. Jika beliau datang ke sebuah majelis, beliau tidak menyukai andaikata orang-orang berdiri untuk menyambutnya. Beliau ingin diperlakukan sama. Jikalau beliau berjalan, beliau tidak ingin dikawal agar kelihatan menjadi berwibawa. Nabi Muhammad tidak mengharapkannya. Jika mau masuk ke sebuah masjid dan beliau tidak kebagian tempat duduk, beliau tidak menginginkan duduk yang utama. Beliau duduk di mana saja. Bahkan beliau jika menyapa seseorang berusaha mendahului sapaannya. Menjawab dengan sempurna. Mengantar tamu sampai ke depan rumahnya. Beliau adalah orang yang setiap siapapun yang berjumpa dengannya selalu merasa puas akan sikapnya yang penuh kemuliaan dan rendah hati. Tidak ada jalan bagi kesombongan untuk menjadi mulia. Kemuliaan, ketinggian hanyalah milik orang yang tawadhu.

Semoga Allah yang Maha Agung menjauhkan kita dari segala kesombongan yang amat hina dan memalukan. Tidak ada contoh kesombongan kecuali kesombongan yang dicontohkan oleh iblis yang akhirnya terkutuk. Oleh Firaun yang akhirnya terlaknat. Abu Jahal dan Abu Lahab yang akhirnya menjadi orang yang dihinakan dunia wal akhirat.

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka innii kuntu minadz dzoolimiin.

Duhai yang Maha Mendengar, ampuni jikalau selama ini kami termasuk amat sombong dalam pandangan-Mu. Ampuni jikalau kami sering menbesar-besarkan diri kami dan meremehkan keagungan-Mu. Ampuni jika kami sering mendustakan kebenaranMu. Ampuni jikalau kami meremehkan agama-Mu ya Allah. Ampuni jikalau Engkau saksikan kami enggan menerima nasehat.

Saudara-saudaraku, alangkah indahnya jikalau kita termasuk orang yang ditatap oleh Allah. Apa yang harus kita sombongkan pada diri kita? Mudah-mudahan kerendahan hati kita memacu amal kebajikan yang kita lakukan. Menjadi amal yang diterima oleh Allah dan memperkokoh kehidupan kita. Selamat menikmati hidup dengan rendah hati. ***

Sabtu, 04 Desember 2010

Ketika malam pergi bersama gelapnya yg kelam, siang sudah bersiap gantikan itu dg cahaya. tetapi bagaimana itu bisa terjadi tanpa fajar sbg perantara ? jgn pernah tak simpan harapan di laci kesadara, sebab tanpa itu hidup tak punya alasan untuk di jalani. jika harapan sudah dalam genggaman, kalau sebuah mesti dihantark...an dari gelap menuju terang, kmna tujuan mesti di alamatkan kalau tidak kpd sang "fajar" ?