This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 26 Februari 2011

BAHASA HATI

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukan oleh cinta...

Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang...

Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan...

Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan...

Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran...

Semua itu haruslah berasal dari hati.. Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai kehati pula

Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa tajam otak kita, namun juga betapa lembut hati kita menjalani segala sesuatunya...

Jumat, 25 Februari 2011

HIDUP ADALAH PILIHAN

Pada suatu ketika, dalam hidup kita sebagai manusia niscaya akan mencapai suatu titik di mana kita tidak berdaya dengan keadaan disekeliling kita (realita). Pada kondisi semacam itu kita merasa berada pada titik nol dalam kehidupan ini. Dimana semuanya harus diakhiri atau harus dimulai dari awal lagi.

Perasaan—untuk mengakhiri—itu sebenarnya timbul karena adanya bangunan asumsi dalam diri kita bahwa lota telah melakukan semuanya secara maksimal untuk mencapai titik tertinggi. Tapi pada kenyataannya kita tak pernah sampai ke sana. Ya disinilah letak keinginan tak sesuai dengan kenyataan padahal telah melakukan banyak hal untuk menggapainya. Situasi semacam ini hanya di derita oleh orang-orang yang secara mental mereka sangat lemah. Tepatnya mereka tak begitu mengenal tentang Proses, Hidup dan Kehidupan.

Sedangkan pada sisi yang lain, dimana ada anggapan kalau kita harus memulai lagi dari awal, atau beranggapan kalau semuanya ini masih belum berkahir justru baru dimulai. Kondisi semacam ini jelas akan membangkitkan andrenalin kita untuk terus berpacu dengan melodi kehidupan ini. Ikuti iramanya tapi kita yang tentukan goyangannya. Dan bagi saya orang semacam ini pada suatu ketika ia akan sampai pada sutau titik dalam kehidupannya yang ia pun tak pernah menduganya. Ketika mereka sampai disana mereka akan berkata “KEAJAIBAN”.

Kembali lagi pada persoalan ketidak berdayaan diatas, sebenarnya ada banyak faktor terjadinya hal tersebut. Di samping ketidakberdayaan itu memang melekat menjadi sifat kita. Tapi bukan manusia yang namanya jika harus terus tergeletak dalam ketidakberdayaan tersebut. karena “tidak berdaya” bukan berarti “mati”. Tapi kondisi dimana kita harus lebih kritis dalam mengevaluasi diri.

Dalam proses melakukan evaluasi ini dibutuhkan kesadaran akan kejujuran dalam diri kita sendiri. Berani menyalahkan sekecil apapun proses yang kita lakukan, dan berani mengambil alternatif lain untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah menggunakan Perasaan, Pikiran, dan Keyakinan secara proporsional dan profesional dalam setiap tema yang kita bahas dalam hidup ini.

Ketiga hal tersebut harus berjalan secara adil, karena kita tidak bisa hidup dengan paradigma apa yang kita rasakan secara terus menerus, karena bisa jadi perasaan itu juga salah, demikian juga dengan pikiran ataupun keyakinan. Jika kita sudah bisa menyatukan antara perasaan, pikiran dan keyakinan dalam satu garis lurus, itulah yang disebut dengan “kemantapan”.

Terkadang, orang seringkali berprilaku mengikuti perasaannya padahal ia tahu bertolak belakang dengan pikiran dan keyakinannya. Atau barang kali orang memang bergerak dengan keyakinan dan perasaannya tapi bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan. Bahkan ada juga orang yang bergerak sesuai dengan pikiran dan perasaannya tapi bertolak dengan keyakinannya. Semuanya itu tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.

Jadi dalam hal apapun saya pikir, kita memang harus cerdas dalam menggunakan Perasaan, Pikiran dan Keyakinan tersebut, walaupun ketiganya memiliki peran dan fungsi tersendiri dalam kehidupan kita, dan terkadang kita harus lebih mementingkan salah satu diantara ketiganya namun kita tak bisa mengabaikan yang lainnya. Biarkan ketiganya memberikan pendapat pada kita. Namun pilihlah apa yang membuatmu hidup bahagia. Tidak hanya di dunia tapi di akhirat juga.

Hal ini sering kita alami dalam beberapa tema besar kehidupan kita, dalam hal cinta misalnya, orang sering kali mendewakan perasaannya dari pada pikiran dan keyakinannya. Sehingga ketika kenyataan tak sesuai harapan, ia kemudian tergeletak dalam kondisi ketidak berdayaan bahkan ada yang menangis hingga rumahnya kebanjiran. Jadi capailah dulu titik “KEMANTAPAN” barulah ambil “KEPUTUSAN”.

Hidup itu adalah pilihan, bahkan tak mau untuk memilih pun itu juga merupakan pilihan, dimana setipa pilihan punya konsekwensi-konsekwensi logis bagi hidup kita yang akan datang. Jadi “pilihan” itu adalah “keniscayaan”.

Seperti hal nya kesedihan dan kebahagiaan itu juga pilihan, dalam kondisi apapun jika kita memilih untuk bersedih, maka kita pasti bersedih, karena kita telah “merasa” dan “melakukan” hal-hal yang membuat kita tampak sedih. demikian juga sebaliknya.

HANYA INGIN MENGERTI

Aku terbaring dalam kegelisahan,

Hampir dua purnama

Aku terbelenggu dalam tanya,

Mengurai kata-demi-fakta

Tuk temukan penjelasan,

Bukan sekedar jawaban yang diterka......>!!!!



Aku bertanya pada rembulan

Dia mengadu pada awan

Ku ceritakan pada Senja

Dia bilang "tunggulah sang fajar"



Aku tak mengerti

Kutemukan mataku menatap mentari

Ketika itu ku tahu telah pagi

Gemuruh itu tetap memberontak dalam hati

Menuntutku untuk bisa memahami



Ini bukan tentang apa dan siapa

TIdak pula masalah kapan dan dimana

Ini tentang semuanya

Yang kualami dalam setiap fakta



AKu bertanya Kenapa dan Bagaimana

Jawaban itu katanya langka

Karena itulah kita disebut manusia

Yang terus mencari tanpa putus asa.



Ada seberkas cahaya

Ketika gelap dalam gulita

Menyapaku di kedalaman jiwa

Sesuatu itu indah pada Waktunya.

Karena ADA dan TIADA masalahnya.

IKATAN SUCI

Sejuta makna dalam satu Kata

Menjadi sebab adanya semesta

Datang dari keharibaanNya

Bergandeng mesra Bersama Asma’ul Husna

Engkau berkata dariNya engkau Ada

Menjelma dalam bentuk manusia

Janjimu menjadi hamba......

Janjimu memujaNya

Janjimu sujud padaNya

Janjimu padaNya engkau rela


Bagimana kau mengenal hakekat

Jika hatimu masih terlalu kotor dan karat

Bagimana hatimu bisa ikhlas

Jika ambisimu tak bisa engkau peras


Oh.......!!!

Semesta dalam cinta

Mengurai bait setiap rasa

Kembali dalam sujud tak berdaya

Dari senja hinga senja


Bagaimana aku bisa percaya

Tentang apa yang kau sebut cinta

Sementara wajahku selalu kau puja

Dan melupakan asal semua itu ada


Bagaimana aku bisa mengerti

Kalau cintamu itu sejati

Sementara dirimi selalu berdiri

Dalam ego abaikan nurani


Dari mana aku tahu kamu tulus

Jika kau bayangkan tubuhku yang mulus

Dari mana aku tahu kamu setia

Jika pelukanku yang selalu kau damba


Tenangkan jiwamu,

Datanglah dan peluklah jiwaku

Jadilah imam dalam setiap shalatku

Jadilah pemimpin dalam atap rumahku

KepangkuanNya lah kita menuju

Dalam ikatanNya yang SUCI

BERSEDIH ATAU BERBAHAGIA

Pada suatu ketika, dalam hidup kita sebagai manusia niscaya akan mencapai suatu titik di mana kita tidak berdaya dengan keadaan disekeliling kita (realita). Pada kondisi semacam itu kita merasa berada pada titik nol dalam kehidupan ini. Dimana semuanya harus diakhiri atau harus dimulai dari awal lagi.



Perasaan—untuk mengakhiri—itu sebenarnya timbul karena adanya bangunan asumsi dalam diri kita bahwa lota telah melakukan semuanya secara maksimal untuk mencapai titik tertinggi. Tapi pada kenyataannya kita tak pernah sampai ke sana. Ya disinilah letak keinginan tak sesuai dengan kenyataan padahal telah melakukan banyak hal untuk menggapainya. Situasi semacam ini hanya di derita oleh orang-orang yang secara mental mereka sangat lemah. Tepatnya mereka tak begitu mengenal tentang Proses, Hidup dan Kehidupan.



Sedangkan pada sisi yang lain, dimana ada anggapan kalau kita harus memulai lagi dari awal, atau beranggapan kalau semuanya ini masih belum berkahir justru baru dimulai. Kondisi semacam ini jelas akan membangkitkan andrenalin kita untuk terus berpacu dengan melodi kehidupan ini. Ikuti iramanya tapi kita yang tentukan goyangannya. Dan bagi saya orang semacam ini pada suatu ketika ia akan sampai pada sutau titik dalam kehidupannya yang ia pun tak pernah menduganya. Ketika mereka sampai disana mereka akan berkata “KEAJAIBAN”.



Kembali lagi pada persoalan ketidak berdayaan diatas, sebenarnya ada banyak faktor terjadinya hal tersebut. Di samping ketidakberdayaan itu memang melekat menjadi sifat kita. Tapi bukan manusia yang namanya jika harus terus tergeletak dalam ketidakberdayaan tersebut. karena “tidak berdaya” bukan berarti “mati”. Tapi kondisi dimana kita harus lebih kritis dalam mengevaluasi diri.



Dalam proses melakukan evaluasi ini dibutuhkan kesadaran akan kejujuran dalam diri kita sendiri. Berani menyalahkan sekecil apapun proses yang kita lakukan, dan berani mengambil alternatif lain untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah menggunakan Perasaan, Pikiran, dan Keyakinan secara proporsional dan profesional dalam setiap tema yang kita bahas dalam hidup ini.



Ketiga hal tersebut harus berjalan secara adil, karena kita tidak bisa hidup dengan paradigma apa yang kita rasakan secara terus menerus, karena bisa jadi perasaan itu juga salah, demikian juga dengan pikiran ataupun keyakinan. Jika kita sudah bisa menyatukan antara perasaan, pikiran dan keyakinan dalam satu garis lurus, itulah yang disebut dengan “kemantapan”.



Terkadang, orang seringkali berprilaku mengikuti perasaannya padahal ia tahu bertolak belakang dengan pikiran dan keyakinannya. Atau barang kali orang memang bergerak dengan keyakinan dan perasaannya tapi bertolak belakang dengan apa yang ia pikirkan. Bahkan ada juga orang yang bergerak sesuai dengan pikiran dan perasaannya tapi bertolak dengan keyakinannya. Semuanya itu tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.



Jadi dalam hal apapun saya pikir, kita memang harus cerdas dalam menggunakan Perasaan, Pikiran dan Keyakinan tersebut, walaupun ketiganya memiliki peran dan fungsi tersendiri dalam kehidupan kita, dan terkadang kita harus lebih mementingkan salah satu diantara ketiganya namun kita tak bisa mengabaikan yang lainnya. Biarkan ketiganya memberikan pendapat pada kita. Namun pilihlah apa yang membuatmu hidup bahagia. Tidak hanya di dunia tapi di akhirat juga.



Hal ini sering kita alami dalam beberapa tema besar kehidupan kita, dalam hal cinta misalnya, orang sering kali mendewakan perasaannya dari pada pikiran dan keyakinannya. Sehingga ketika kenyataan tak sesuai harapan, ia kemudian tergeletak dalam kondisi ketidak berdayaan bahkan ada yang menangis hingga rumahnya kebanjiran. Jadi capailah dulu titik “KEMANTAPAN” barulah ambil “KEPUTUSAN”.



Hidup itu adalah pilihan, bahkan tak mau untuk memilih pun itu juga merupakan pilihan, dimana setipa pilihan punya konsekwensi-konsekwensi logis bagi hidup kita yang akan datang. Jadi “pilihan” itu adalah “keniscayaan”. Seperti hal nya kesedihan dan kebahagiaan itu juga pilihan, dalam kondisi apapun jika kita memilih untuk bersedih, maka kita pasti bersedih, karena kita telah “merasa” dan “melakukan” hal-hal yang membuat kita tampak sedih. demikian juga sebaliknya.